POLA PERSEBARAN JENIS KEPITING BAKAU ( SCYLLA SERRATA ) DI KAWASAN HUTAN MANGROVE PANDANSARI DESA KALIWLINGI BREBES.
Main Article Content
Abstract
Kepiting bakau (Scylla serrata) merupakan salah satu spesies kunci dalam ekosistem
mangrove sehingga kepiting bakau merupakan komoditas yang memiliki potensi untuk
dikembangkan. Kebutuhan konsumen akan kepiting bakau (Scylla serrata) sebagian
besar masih dipenuhi dari hasil penangkapan di alam yang sifatnya fluktuatif. Guna
menunjang usaha budidaya kepiting yang efektif, efisien dan menguntungkan secara
ekonomis perlu dilakukan pengkajian terhadap sifat-sifat biologis kepiting bakau.
Tujuan dari Penelitian ini untuk mengetahui Pola Persebaran Jenis Kepiting Bakau
(Scylla serrata) di kawasan Hutan Mangrove Dukuh Pandansari, Desa kaliwlingi,
Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes.
Penelitian ini dilakukan dengan cara
pengamatan untuk mengetahui bagaimana pola persebaran kepiting bakau (Scylla
serrata) di bubu/perangkap. Alat yang digunakan seperti bubu/perangkap, umpan, alat
untuk cek kualitas air, penggaris dan timbangan. Penelitian ini terdapat 3 lokasi, stasiun
1 berlokasi di Tambak Hutan Mangrove, stasiun 2 berlokasi berlokasi di Kawasan
Hutan Mangrove dekat Sungai Pemali, stasiun 3 berlokasi di Dermaga Pulau Hutan
Mangrove. Berdasarkan Penelitian diperoleh jumlah Kepiting Bakau (Scylla serrata)
dari 3 stasiun 10 ekor, pola persebaran jenis kepiting bakau (Scylla serrata) yang
terbanyak diperoleh di stasiun 2 yang berlokasi di kawasan Hutan Mangrove dekat
Sungai Pemali yaitu 4 ekor. Berdasarkan rationya, jumlah kepiting bakau Jantan yang
diperoleh 6 ekor dan Betina 4 ekor dengan persebaran ratio jenis kepiting bakau Jantan
dan Betina terbanyak berturut-turut yaitu stasiun 2 diperoleh 2 Jantan dan 2 Betina,
sedangkan di stasiun 1 dan 3 diperoleh 2 Jantan dan 1 Betina.
Article Details

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
References
N. S. Apriliani and M. J. Luthfi, “Comparative Anatomy and Histology of Black Pomfret (Formio
niger) and Nile tilapia (Oreochromis niloticus) Kidney,” Biol. Med. Nat. Prod. Chem., vol. 6, no.
, pp. 9–12, 2017, doi: 10.14421/biomedich.2017.61.9-12.
N. A. Prayogo, H. Atik, S. S. Asrul, and Yunasfi., “Uji Toksisitas Letal dan Subletal Logam Berat
Merkuri (Hg) Terhadap Ikan Nilem (Osteochilus hasselti),” OmniAkuatika, vol. 12, no. 1, pp.
–94, 2016, [Online].
E. Y. Herawati, A. Darmawan, and K. F. Dina, “Histological studies of Selaroides leptolepis
and Sardinella sp. kidneys as a biomarker of water pollution in Pasuruan Waters, Indonesia,”
Egypt. J. Aquat. Biol. Fish., vol. 26, no. 1, pp. 549–561, 2022, doi:
21608/EJABF.2022.221867.
A. A. Hadi and S. F. Alwan, “Histopathological changes in gills , liver and kidney of fresh water
fish, Tilapia zillii, exposed to aluminum,” Int. J. Pharm. Life Sci., vol. 3, no. 11, pp. 2071
, 2012.